5.2 Penomoran dan Pelabelan

Sub Pokok Bahasan 5.2

Penomoran dan Pelabelan Bahan Kegenetikaan

Tujuan penomoran bahan genetika adalah untuk mengidentifikasi secara lengkap, akurat, simple, dan efisien untuk semua materi pemuliaan tanaman.

img5-2-1Gambar. Penomoran tabung ampul mikroba untuk perakitan varietas resisten penyakit.

5.2.1 Penomoran Materi introduksi, hasil seleksi dan galur hibrid yang seragam

Caranya adalah sebagai berikut :

  • Setiap amplop/ kantong benih memuat nomor asesi varietas/ hybrid/ klon.
  • Identifikasi dilengkapi dengan namanya dengan singkatan huruf. Bila dikehendaki nama dapat dipakai dengan nama kota, propinsi/ lembaga instansi pemerintah. Contoh : IPB 9225 / DKI 9225
  • Bila benih introduksi baru/ varietas/ hybrid/ klon diterima terlambat untuk dilakukan pengujian pendahuluan, misal diterima terlambat pada tahun 1995, maka materi pemuliaan tanaman tersebut dimasukkan pada tahun berikutnya. Contoh : IPB 9601, IPB 9602, dan seterusnya.

5.2.2 Materi Hibrid yang ditangani secara metode silsilah (pedigree method)

Tujuan : Memberikan informasi lengkap, akurat dan efisien untuk semua materi pemuliaan dari persilangan-persilangan melalui penyilangan pada generasi memisah (F2) sampai dengan tercapai kemurnian genetik. Caranya, semua materi ditangani melalui metode silsilah ditumbuhkan pada petak H kelas (petak pengujian pendahuluan) yang terdiri dari ½ baris dengan ukuran panjang 2-3 m dan jarak antar baris 40 cm.

a. Persilangan Tunggal

  • Persilangan ditandai dengan kombinasi nama-nama varietas tetua dengan nama tetua betina ditulis lebih dulu dan nomor (jml). Contoh Regent x Conus 71
  • Untuk Persilangan kebalikan (Reciprocal cross), juga ditandai kebalikannya. Contoh : Conus 71 x Regent
  • Hibrid ditandai juga dengan F (filial) dan nomor generasi. Contoh : F1 (generasi 1), F2 (generasi K2/generasi memisah), dan seterusnya
  • Benih hasil tanaman F1 dari tetua betina yang sama dikumpulkan dalam satu kantong/amplop dan ditandai dengan F1 dan jumlah persilangan. Contoh : 74 F1. Bila perlu ditambah dengan kombinasi tetua. Contoh : 74 F1 (Regent x Conus 71)
  • Benih dari hasil persilangan resiprokal disimpan dalam kantong/ plastik terpisah
  • Sebelum benih F1 ini ditanam lebih lanjut, nomor petak di mana benih tersebut akan ditanam pada petak H kelas dicatat pada amplop yang bersangkutan. Contoh 74 F1 H 1904
  • Benih F2 yang dihasilkan dari penyerbukan sendiri tanaman F2 disatukan (bulk) dalam 1 amplop/ kantong dengan diberi catatan. Contoh : 71 F2 (71x persilangan)
  • Benih-benih F2 hasil persilangan kebalikan disimpan dalam amplop terpisah.
  • Dalam petak pengujian pendahuluan satu pancang dengan label ditempatkan pada baris pertanaman. Label yang ditempelkan pada pancang ditulis identitas materinya. Contoh : 71 F2
  • Apabila F2 membutuhkan sederetan lebih dari satu seri dari baris nursery, baris pertama dari setiap seri diberi pancang dan label.
  • Tanaman-tanaman F2 yang dipanen, diikat bersama-sama dan diberi label yang menunjukkan jumlah persilangan dan jumlah baris. Contoh : 74 F2 H265-54 untuk tanaman yang berhasil dipanen dengan baris-baris H2651-2654
  • Di antara baris-baris pengecek 2650-2655 catatan tambahan lainnya pada tanaman F2 yang dipanen adalah informasi yang menunjukkan kegenjahan, munculnya malai bunga (Heading) dan resistensi terhadap suatu penyakit/ hama penting.
  • Tanaman pengecek dipanen dan diberi label yang menunjukkan nama varietas dan nama baris. Misal : Apex 2655
  • Hasil tanaman F2 kemudian dirontokkan dengan tangan secara individu atau dengan motor mesin perontok.
  • Biji tanaman F3 dari hasil tanaman F2 segera digundukkan di atas secara berdekatan dalam kelompok berbentuk segi empat, masing-masing kelompok datang dari baris-baris tanaman dari petak nursery antar 2 baris tanaman pengecek.
  • Masing-masing gundukan (kelompok) diidentifikasi menggunakan label yang sudah ada dalam bungkus tanaman F2 yang diambil dari baris-baris dalam petak nursery. Gundukan-gundukan biji dari individu tanaman pengecek diidentifikasi dengan baik.
  • Gundukan biji yang memuaskan (keturunan F3) kemudian dimasukkan dalam amplop terpisah dan ditandai dengan jumlah barisan dengan nomor urutan F2 (keturunan F3).Contoh : 71-1; 71-2; 71-3.
  • Bila pengujian hibrid direncanakan, benih/biji masing-masing keturunan F3 dipilah dalam amplop sesuai dengan nomor baris dan ulangan di mana masing-masing keturunan F3 ditanam. Contoh : 11-12 mungkin menempati baris H606 (petak H kelas 607). Keturunan 71-13 mungkin menempati H608, petak H kelas 608, dan seterusnya
  • Keturunan 71-12, 71-13 dan seterusnya mungkin juga memiliki sifat resistensi terhadap penyakit dan dirancang pada baris khusus dengan tanda 12. Contoh 71-13-1; angka 1 merupakan nomor keturunan F4 yang diselamatkan dari famili nomor 13 dari persilangan 71 yang tumbuh pada baris H 608.

b. Silang Balik (Back Cross)

Tujuan : Menyusupkan satu sifat resisten yang adaptif terhadap salah satu tetua, di mana tetua yang memberikan sifat disebut tetua non recurrent dan tetua yang menerima sifat disebut tetua recurrent. Silang balik adalah keturunan hasil persilangan disilang dengan salah satu tetuanya.img5-2-2

Bisa juga back cross terjadi karena adanya persilangan sendiri maka menjadi :img5-2-3

Contoh : BC pada F3 & dilakukan satu kali BC ke Limg5-2-4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: