Konsep, Nilai, Ragam, dan Hubungannya

Sub Pokok Bahasan 3.2

Konsep, Nilai, Ragam, dan Hubungannya

Suatu populasi akan memiliki ciri tertentu yang akan membedakannya dengan populasi lain. Hal-hal yang dapat menimbulkan ciri populasi antara lain adalah komposisi genotipe-genotipe penyusunnya, dalam hal ini tercakup pengertian tentang banyak bentuk genotipe dan frekuensinya masing-masing, serta nilai dari masing-masing genotipe. Dengan demikian, ciri genetik populasi secara umum perlu diketahui agar berbagai pilihan cara seleksinya dapat disusun.

Seleksi sendiri pada dasarnya adalah melakukan penilaian terhadap fenotipe, sehingga sangat bergantung kepada pengetahuan tentang hubungan antara fenotipe dan genotipe atau hubungan gen dengan gen, serta pengaruh faktor lingkungan.

Pada hubungan gen dengan gen, pengetahuan tentang segregasi, rekombinasi, kaitan, dan bentuk peran gen perlu diketahui. Dikenal ada tiga bentuk peran gen, yaitu aditif, dominan, dan epistasis. Peran gen ini akan sangat berpengaruh dalam proses seleksi dan menjadi dasar pemilihan metode seleksi yang efektif dan efisien.
Berikut ini adalah contoh nilai genotipe sesuai dengan aksi gennya.

AABB 7 AABb 6 AAbb 5 AA– 6 AABB 4 AABb 4 AAbb 2 AA– 3.5
AaBB 5 AaBb 4 Aabb 3 Aa– 4 AaBB 4 AaBb 4 Aabb 2 Aa– 3.5
aaBB 3 aaBb 2 aabb 1 aa– 2 aaBB 3 aaBb 3 aabb 1 aa– 2.5
–BB 5 –Bb 4 –bb 3 –BB 3.75 –Bb 3.75 –bb 1.75
Aksi Gen Aditif Aksi Gen Dominan

Dalam rangka untuk mengetahui ciri dari suatu populasi, perlu diketahui informasi tentang beberapa parameter populasi, yaitu :

  1. Rataan = (∑X)/n
  2. Ragam = (∑X2– (∑x)2/n)/(n-1)
  3. Simpangan baku = s.dev = (ragam)1/2
  4. Maksimum
  5. Minimum
  6. Skewness = [1/n {∑(Xi– x)3}]/S3
  7. Kurtosis = [1/n {∑(Xi– x)}4]/S4

Terkait dengan kegiatan seleksi, penghitungan nilai tengah dan ragam di atas untuk mengetahui ciri populasi, dapat berubah dari generasi ke generasi. Beberapa hal yang dapat menyebabkan perubahannya antara lain :

  1. Pemilihan
    tetua-tetua terbaik untuk generasi berikutnya menyebabkan perubahan dalam
    frekuensi gen
  2. Perubahan
    dalam frekuensi gen ini menyebabkan suatu perubahan di dalam nilai genotipe
    rata-rata pada generasi berikutnya
  3. Resultan
    dari hasil merupakan harapan perubahan nilai tengah populasi dari satu generasi
    ke generasi berikutnya.

Pada semua metode seleksi, komponen ragam fenotipe dapat dikelompokkan ke dalam σ2 (ragam lingkungan), σH2 (ragam genetik total), dan komponen-komponen ragam genetik yang bisa diidentifisir. σ2 sendiri dapat dipecah lebih lanjut ke dalam σw2, keragaman antara tanaman-tanaman dalam unit percobaan dan σe2, salah acak yang disebabkan oleh ulangan dari unit percobaan. Komponen ragam genetik yang dapat diidentifikasi antara lain σm2 (ragam genetik antara saudara tiri), σF2 (ragam genetik antara saudara kandung), dan σS2 (ragam genetik keturunan S1). Dengan demikian, maka ragam fenotipik dalam berbagai metode adalah sebagai berikut, di mana r adalah ulangan dan m adalah banyaknya tanaman per unit percobaan σPm2 = σ2 + σH2

  • σPhs2 = [(σw2+ σH2 –σF2)/rm] +σe2/r + σm2
  • σPfs2 = [(σw2+ σH2 –σF2)/rm] +σe2/r + σm2
  • σPs2 = [(σw2+ σH2 –σF2)/rm] +σe2/r + σs2
  • σPw2 = σw2H2 –σm2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: